Friday, October 19, 2012

Awal Mula Perpecahan Dalam Islam

PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang Masalah
Seiring berjalannya waktu kemurnian agama Islam mengalami perubahan, muncul sengketa dan diskursus pemahaman baru dalam menafsirkan Al-Qur’an dan Al-Hadist. Rosululloh sebelumnya sudah mengingatkan bahwa Islam akan pecah menjadi 73 gologan, ini melebihi perpecahan umat Yahudi dan Nasroni yang bejumlah 71 dan 72. Dari 73 pecahan Islam hanya satu yang benar dan masuk surga, lainnya masuk neraka. Rosululloh mengisyaratkan dalam Hadistnya yang diriwayatkan oleh Abu Dawud.
Setidaknya, akhir periode pemerintahan Khalifah Utsman Ibnu Afan adalah awal perselisihan itu dimulai berlanjut pada pemerintahan Sayyidina ‘Ali bin Abi Tholib RA. dan terus memanas pada masa-masa berikutya. Munculnya sekte-sekte yang baru tidak membuat Aswaja terpengaruh dan terseret arus ‘Aliran kecil yang memisahkan Ahlussunah Waljama’ah dari sumber aslinya. Maka tidak heran jika Aswaja dikenal sebagai ajaran orisinil  dari Rosulullah SAW bagi yang teguh dan tak terpengaruh oleh ajaran Islam sesat.
Aswaja berdiri ditengah puluhan Islam pecahan yang terus berusaha merobohkan dinding pertahanan. Oleh karena itu, sangatlah diperlukan jika Aswaja dirumuskan dan diformulasikan dalam kondifikasi (pembukuan yang sistematis). Tujuannya agar menjadi pedoman bagi pengikutnya dan menjadi perisai dari hantaman sekte lain yang siap merobohkan kekokohan Aswaja.

B.      Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, kami rumuskan item masalah yang akan dibahas pada penulisan makalah ini, yaitu:
  1. Bagaimana awal perselisihan dalam Islam?
  2. Bagaimana Khalifah Utsman dan al-fitnah al-kubro?
  3. Apa latar belakang al-fitnah al-kubro?
  4. Bagaimana Khalifah ‘Ali dan perang jamal?
  5. Bagaimana terjadinya Perang siffin?


AWAL MULA FIRQOH-FIRQOH DALAM ISLAM

A.     Awal perselisihan dalam Islam
Realitas kesejarahan tidah dapat dipungkiri bahwa umat Islam terpecah menjadi 73 kelompok, berdasarkan keterangan dalam hadits-hadits sahih dan mutawatir (diyakini kebenaran nisbahnya kepada Nabi SAW). Para pakar juga telah menguraikan perinciannya tentang makna dan siapa saja dari 73 kelompok itu. Berdasarkan kesepakatan para pakar, motif utama terjadinya perpecahan dikalanga umat Islam tersebut adalah berangkat dari ranah politik, yaitu soal khilafah atau suksesi kepemimpinan pasca wafatnya Nabi SAW.
Perselisihan dalam soal kepemimpinan ini berangkat dari tidak adanya nash (teks) yang definitif (qoth’i), baik dalam Al-Qur’an maupun dalam sunnah yang sahih, yang menunjuk kepada seseorang atau keluarga secara khusus, sebagai Khalifah sepeninggalan Nabi SAW. Sampai Nabi SAW. wafat, beliau belum pernah memberikan isyarat tentang seseorang atau keluarga secara jelas untuk menjadi Khalifah setelahnnya. Karenannya, apabila kita cermati proses pembai’atan Khalifah Abu Bakar As-Shiddiq RA di Saqifah Bani Sa’idah, kita dapati bahwa pembai’atan tersebut berjalan secara terbuka, bebas dan tanpa ada mandat, wasiat dan nash dari Nabi SAW.
Memang tidak dapat disangkal, bahwa Nabi SAW. telah memerintahkan Abu Bakar bertindak sebagai imam shalat pada waktu beliau sakit menjelang wafatnya, dan sebagian kalangan ada yang memahami, bahwa para sahabat memilihnya sebagai Khalifah lantaran faktor tersebut. Akan tetapi walaupun pemahaman ini dapat dibenarkan, hal tersebut tidak dapat dianggap sebagai komitmen atau mandat bahwa dialah yang akan menjadi Khalifah setelah Nabi SAW. wafat, meskipun secara umum penunjukan sebagai imam shalat tersebut sebagai eksplanasi keutamaan Abu Bakar dan posisinya yang sangat penting di antara sahabat. Andaikata penunjukan Abu Bakar sebagai imam shalat merupakan komitmen dan mandat bahwa dialah yang akan menjadi Khalifah setelahnya, niscaya Abu Bakar sendiri – dan mungkin juga sahabat lain seperti Umar misalnya – akan menjadikan peran Abu Bakar sebagai imam shalat tersebut sebagai argumentasi di Saqifah Bani Sa’idah dalam menyelesaikan kemelut politik yang sedang dihadapi.
Berangkat dari tidak adanya teks yang tegas ini, segera setelah Nabi SAW. wafat, dikalangan sahabat terjadilah perbedaan pendapat tentang siapa yang akan menjadi Khalifah sesudahnya. Kaum Anshor yang telah berjasa besar dalam memberikan perlindungan kepada Nabi SAW, perlindungan kepada kaum Muhajirin serta telah mengorbankan jiwa dan raga dalam membela agama, berpandangan bahwa golongan Anshor lebih berhak menjadi Khalifah setelahnya. Mereka mencalonkan pemimpin mereka, Sa’ad bin Ubadah untuk memegang kendali kepemimpinan umat. Akan tetapi, begitu mereka mendengar pidato Abu Bakar yang menjelaskan pokok persoalan berdasarkan dalil-dalil Al-Qur’an dan Sunnah, mereka segera menyadari kekeliruan mereka dan segera membai’at Abu Bakar sebagai Khalifah. Kemudian secara aklamasi kaum muslimin memberikan bai’atnya pula kepada Abu Bakar. Hal ini menjadi salah satu lembaran gemilang dalam Sejarah Islam, di mana kemelut politik dapat diselesaikan dengan cara sangat bijak dan menjadi awal persatuan kaum Muslimin. Sehingga dapatlah dikatakan bahwa saqifah adalah awal persatuan umat.
Di sisi lain, ada pula yang berpandangan bahwa Suku Bani Hasyim merasa lebih berhak menjadi Khalifah setelah Nabi karena faktor kekerabatan mereka yang sangat dekat dengan Nabi konon, mereka menyerukan agar ‘Ali bin Abi Thalib tampil menjadi Khalifah sebagai wakil dari Bani Hasyim. Namun demikian, sebab pandangannya tersebut Bani Hasyim tidak sampai mengobarkan fitnah, bahkan mereka mengikuti aspirasi publik yang menyepakati keKhalifahan Abu Bakar, Umar dan Utsman (47SH-35H/577-656M). Sementara kelompok Syi’ah berpandangan bahwa ‘Ali bersama Bani Hasyim dan 12 orang dari kaum muhajirin dan anshar melakukan perlawanan terhadap keKhalifahan Abu Bakar. Mereka melakukan bai’at terhadap Abu Bakar setelah posisi mereka menemukan jalan buntu dan menghadapi kesulitan besar dalam mengusung ‘Ali bin Abi Thalib sebagai Khalifah. Akan tetapi pandangan Syi’ah ini tidak memiliki landasan historis yang dapat dipertanggung-jawabkan secara ilmiah.
B.      Khalifah Utsman dan al-fitnah al-kubro
Pada masa pemerintah Khalifah Abu Bakar dan Umar, dan sebagian besar masa pemerintahan Khalifah Utsman, kaum Muslimin berada dalam suasana yang kondusif, tenang dan harmonis. Perselisihan dan kemelut internal relatif tidak terjadi. Hal ini disamping karena kebijakan politik yang diambil tidak membuka peluang lahirnya friksi internal dan gerakan oposisi, juga karena pada saat itu kaum Muslimin disibukkan dengan jihad dan Ekspansi militer Islam (futuhat) ke daerah-daerah sekitar jazirah arab, sebagai pemerataan jalan bagi penyebarluasan dakwah Islam ke seluruh Dunia.
Diantara prestasi luar biasa dari pemerintahan ‘Utsman yang sampai sekarang masih dapat dirasakan kontribusinya bagi peradapan Islam adalah penulisan kembali mushaf Al-Qur’an yang kemudian disebut dengan Mushhaf ‘Utsmani atau Mushhaf al-Imam.[1]
Baru setelah 6 tahun pertama dari masa kepemimpinan Khalifah Utsman tepatnya selama 12 tahun yaitu (23 H/644 M – 35 H/655 M), badai fitnah mulai mengguncang dengan hebat dan kuat, dan pada akhirnya mengantarkan pada terbunuhnya Khalifah Utsman tahun 35 H / 655 M, Serta beragam peristiwa politik yang mengiringinya dan huru-hara yang terjadi sesudahnya. Hal ini menjadi topik utama kajian para sejarawan dan para pakar. Masing-masing berusaha mengungkap berbagai sebab dan latar belakang terjadinya fitnah itu.
Dalam catatan sebagian sejarawan, maka terdapat sekian banyak tuduhan terhadap Khalifah Utsman yang dianggap memberikan justifikasi dan legitimasi bagi terjadinya kemelut politik dan perlawanan terhadap Khalifah Utsman. Di antara tuduhan-tuduhan tersebut adalah:
Khalifah Utsman dianggap melakukan nepotisme, berlebihan memberikan perhatian kepada kerabat dekatnya, sampai mendirtribusikan mereka dalam jabatan penting, sebagai tempat kepercayaan dan penasehat dalam menjalankan roda pemerintahannya. Diantaranya adalah:

a.      Walid bin ‘Uqbah, saudara Utsman dari pihak ibu. Utsman mengangkat Walid sebagai Gubernur kufah setelah memberhentikan Sa’ad bin Abi Waqqash (32 SH – 55 H / 592 – 675 M).
b.      Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarah (w. 36 H/656 M), saudara sesusu Utsman diangkat sebagai Gubernur Mesir setelah memberhentikan Amr bin Al’ash (50 SH – 43 H / 574 – 664 M).
c.       Mu’awiyah bin Abi Sufyan, Gubernur damaskus pada masa Umar. Pada masa Utsman, otonomi kekuasaannya semakin luas meliputi seluruh wilayah Syam yaitu Himash, Palestina, Yordania dan Lebanon.
d.      Marwan bin hakam (2-65 H / 623 – 685 M). Saudara sepupu Utsman diangkat sebagai Sekretaris Negara dan mengendalikan banyak kebijakan.

Khalifah Utsman juga dituduh menjadikan kerabat dekatnya sebagi tempat kepercayaan. Dan meninggalkan para senior sahabat seperti ‘Ali bin Abi tholib, Sa’ad bin Abi Waqqash, Thalhah dan lain-lain sebagi penasehat yang sebelumnya menjadi kepercayaan Khalifah Umar dan dewan penasehatnya.
Kecaman juga diarahkan terhadap kebijakan Utsman menyangkut kekayaan negara. Ia dituduh memonopoli sebagian keayaan negara, tindakan yang tidak dikenal pada Khalifah sebelumnya, Abu Bakar dan Umar. Utsman juga memberikan prioritas kerabatnya dalam memanfaatkan kekayaan negara, seperti penghibahan khumus (seperlima) dari kharaj (pajak) afrika kepada Marwan bin Hakam.
Utsman dituduh bersikap lemah dan penuh toleran terhadap para pejabat dari kalangan kerabatnya, sebaliknya ia dituduh bertindak keras dan kasar terhadap sebagian sahabat Nabi SAW. yang bukan kerabatnya. Ia menolak semua saran-saran dan nasehat para senior sahabat. Bahkan ia pernah memukul sebagian mereka, seperti ‘Ammar bin Yasir (57 SH-37 H/567-657 M) hingga ususnya pecah. Ia juga memukul Abdullah bin Mas’ud (28 SH-32 H/596-652 M), dan memutus tunjangannya. Ia juga mendeportasi Abu Dzar Al-Ghifari (w. 32 H/652 M) ke Rabdzah.
Demikian tuduhan-tuduhan yang diarahkan kepada Khalifah Utsman. Namun bila kita amati terdapat sekian banyak keganjilan pada tuduhan-tuduhan tersebut, apalagi sampai berimplikasi pada lahirnya sebuah revolusi, perlawanan dan pembunuhan terhadap Khalifah Utsman.  Karena dari sekian banyak tuduhan tersebut adakalanya cacat secara substansial dan dalam segi riwayat sejarawan. Berikut keganjilan-keganjilan menyangkut tuduhan-tuduhan terhadap Utsman:
Walid bin ‘Uqbah, yang katanya diangkat Utsman karena kekerabatannya. Realita bahwa, Walid bin ‘Uqbah telah memegang jabatan pada masa Khalifah Umar. Tidak mungkin Umar yang dikenal dengan tipikal adil dan bijaksana, mengangkat pejabat yang tidak cakap. Dan kasus Walid yang minum khamr dan pernah menjadi imam shalat dalam keadaan mabuk. Seandainya kasus tersebut benar, justru membuktikan bagi keadilan Khalifah Utsman dengan melakukan hukuman dera dan memberhentikan Walid dari jabatan.
Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarah telah dinyatakan bertaubat dari kemurtadannya. Utsman pun telah memintakan ampun Ibnu Abi Sarah kepada Rosul SAW. dan beliau pun mengampuninya. Ia berperan aktif dalam beberapa Ekspansi militer Islam di Mesir dan Afrika Utara. Ia juga diakui memiliki sikap-sikap terpuji, kecakapan dan jasa yang signifikan. Kemudian Utsman mengangkatnya sebagai Gubernur Mesir mengganti Amr bin Al-Ash, karena dipandang layak dan mampu menjalankan tugas yang diembannya.
Mu’awiyah bin Abi Sufyan telah menjabat Gubernur Damaskus pada masa Khalifah Umar. Ia diakui memiliki kecakapan dan kemampuan manajerial yang bagus. Kemampuan Mu’awiyah ini kelihatan, setelah daerah-daerah lain yang masuk dalam wilayah Syam disatukan ke bawah otonomi kekuasaannya.
Tuduhan bahwa Utsman melakukan mismanajemen dalam mengelola kekayaan negara, memprioritaskan dirinya dan keluarganya dalam memanfaatkan kekayaan kaum muslimin, dan ia telah menguras harta baitul mal, adalah tuduhan yang perlu pembuktian. Karena Utsman sendiri dikenal dengan karakter murah hati dan dermawan sejak sebelum dan setelah menjadi Khalifah. Ia membantu keluarganya dari kekayaan pribadinya, bukan dari kas negara. Bahkan khalifah ‘Utsman tidak mengambil  gaji yang merupakan haknya. Pada saat menjabat khalifah, dia justru jatuh mislin.[2]
Sedangkan pengangkatan Marwan bin Hakam sebagi kepercayaan pribadi Utsman dengan jabatan Sekretaris Negara, karena dari segi kepribadian, Marwan dikenal sebagai orang yang adil dan berdasarkan kesaksian kalangan sahabat, tabi’in dan fuqoha’ kaum muslimin. Memang benar Marwan melakukan kesalahan-kesalahan yang mungkin menjadi bagian diantara sebab-sebab terjadinya fitnah, namun yang dilakukannya bukan atas dasar perintah dan persetujuan Khalifah Utsman, dan sepengetahuannya.
Sedangkan kasus pendeportasian Abu Dzar ke Rabdzah, data sejarah memang menyatakan ada. Akan tetapi bukan lantaran tindakan Utsman, melainkan inisiatif Abu Dzar sendiri yang memilih menjauh dan melakukan uzlah ketika berbeda pendapat dengan masyarakat. Selain itu Abu Dzar  seorang laki-laki yang saleh dan zuhud.
Beberapa kasus di atas termasuk bagian dari peristiwa politik yang oleh sebagian kalangan dinilai sebagai justifikasi dan legimitasi bagi terjadinya al-fitnah al-kubra serta kemelut politik yang mengantarkan pada terbunuhnya Khalifah Utsman. Padahal dalam kesemuanya, Utsman tidaklah bertindak melampaui batas ijtihad yang menjadi hak dan kewajibannya sebagai Khalifah menyangkut kebijakan yang dipandangnya maslahat bagi kaum Muslimin.
C.      Latar belakang al-fitnah al-kubro
Agaknya fitnah yang terjadi pada masa Utsman serta peristiwa yang menyertainya lahir dari kondisi sosial dan sebagai implikasi dari arus transformasi yang menginvasi Negara Islam pasca ekspansi militer Islam (futuhat islamiyah) dan Islamnya masyarakat yang tidak memiliki ikatan dangan masa kenabian.
Ketika Utsman berkuasa, kebijakan politik Umar dianggap tidak kondusif untuk diterapkan. Utsman mengubah kebijakan tersebut dengan memberi kebebasan kepada para sahabat untuk berimigrasi keluar Madinah. Dampaknya justru mempercepat perubahan pola kehidupan sosial menjadi terhanyut godaan dunia dan melahirkan friksi sosial. Eskalasi perubahan tersebut dapat di lihat dengan adanya riwayat al-Hafizh ibnu Jarir al-Thabrani dalam Tarikh al-Umam wa al-Muluk. Misalnya al-Imam ‘Amir al-Sya’bi (17-104 H/637-723 M) berkata: “Pada akhir pemerintahan Umar, kebijakan umar kurang disukai kaum Qraisy. Ia memblokir mereka dimadinah. Ia berkata: “Yang paling aku takutkan pada umat ini, apa bila kalian tersebar di berbagai daerah.” Apabila seorang laki-laki Quraisy dari qoum Muhajirin meminta izin pergi berjihad, Umar akan berkata: “Peperangan yang kamu ikuti bersama Rasulullah telah cukup bagimu, dari pada berperang hari ini. Kamu lebih baik tidak mengenal dunia dan dunia tidak mengenalmu.”
Setelah Utsman berkuasa, mereka mendapat kebebasan dan tersebar di berbagai daerah, sehingga menjadi tumpuan masyarakat setempat. Karena itu, mereka sangat menyukai Utsman dari pada Umar. Akhirnya masyarakat pun tergiur harapan dan angan-angan. Itulah awal kelemahan dalam Islam dan fitnah yang pertama kali terjadi dikalangan umat. Kemudian muncul uforia mengkritik dan menentang pejabat, mereka menuduh pejabat sewenang-wenang dan berbuat kerusakan dan sebaliknya pejabat menuduh rakyat telah membangkang.
Kondisi inilah dimanfatkan oleh orang-orang yang punya ambisi kekuasaan dan punya dendam pribadi kepada Khalifah atau pejabat. Nama-nama yang mendalangi fitnah tersebut diantaranya:
  1. Malik bin Harits al-Asytar dan Muhammad bin Abi Hudzayfah, keduanya memiliki ambisi kekuasaan.
  2. Ghafiqi bin Harb Al-‘Akki, Kinanah bin Bisyr al-Tujibi, Saudan bin Humran, Hukaim bin Jabalah al-‘Abdi dan Amr bin Badil bin Warqa’ al-Khuza’i. mereka adalah orang-orang yang mempunyai akidah menyimpang, kurang agamis dan mendahulukan dunia dari pada akhirat.
Sedangkan aktor utama penyebar fitnah adalah Abdullah bin Saba’  laki-laki Yahudi yang masuk Islam di masa Khalifah Utsman. Ia mulai menyebarkan sebagian akidah sesat yang diadopsi dari ajaran Yahudi, seperti ajaran raj’ah (kebangkitan sebelum hari kiamat) para Nabi dan para washi. Menurutnya setiap nabi mempunyai washi dan washinya Muhammad adalah ‘Ali. Setelah berhasil, Abdullah bin Saba’ menyebarkan sikap anti Utsman dengan mencemarkan nama baik Khalifah Utsman dan bahwa Utsman mengambil ‘Alih kekuasaan (Khalifah) dengan sewenang-wenang.
Demikianlah eskalasi fitnah tersebut menjadi gawat dan unsure-unsurnya terdiri dari ‘Aliansi beberapa daerah dan kota seperti Kufah, Mesir dan Basrah. Secara lahiriah Aspirasi mereka soal pengaduan dan keluhan tentang ketidak adilan dan kesewenang-wenangan sebagian pejabat. Namun dibalik itu mereka merencanakan kudeta terhadap pemerintah. Setelah memperhatikan hal tersebut, Utsman berjanji akan memenuhi tuntutan dan keluhan mereka. Dengan komitmen ini, situasi menjadi tenang terkendali. Akan tetapi selang beberapa saat masa kembali ke Madinah dengan dakwaan Utsman telah membatalkan perjanjian dan komitmennya. Ia telah mengirim surat rahasia kepada Gubernur Mesir dan mengintruksikan agar menindak para penuntut sepulang dari Madinah.
Walaupun Utsman menegaskan dan bersumpah tidak punya hubungan dan tidak tahu menahu tentang surat rahasia itu. Mereka tetap menuntut Utsman mundur atau menyerahkan Marwan bin Hakam yang dituduh menulis surat rahasia itu, atau berhenti secara paksa. Keduanya ditolak Utsman, sebagian sahabat juga mendukungnya agar tidak mengundurkan diri sehingga nantinya menjadi tradisi, dimana setiap masa membenci pemimpinnya, maka akan menuntut mundur.
Selanjutnya posisi Utsman hanya menghadapi pemberontak yang semakin ketat memblokir kediamannya sampai mencegah masuknya air minum. Sebenarnya beberapa sahabat telah siap melindungi dan membela Utsman, namun Utsman memerintahkan untuk membubarkan diri lantaran tidak ingin terjadi pertumpahan darah. Pada akhirnya masa memanfaatkan memasuki rumah beliau dan membunuhnya di siang hari pada 35 H/ 656 M dalam usia 82 tahun. 
D.     Khalifah ‘Ali dan perang jamal
Setelah Khalifah Utsman wafat, telah membuka pintu fitnah, sedangkan pengangkatan Khalifah ‘Ali RA belum menciptakan suasana yang aman, meskipun Khalifah ‘Ali dipilih kaum muslimin namun ada pihak lain yang kurang setuju atas pengangkatanya yaitu Mu’awiyyah  bin Abi Sufyan. Mu’awiyah beralasan atas pengangkatan ‘Ali karena Khalifah Utsman dibunuh secara dholim dan belum di qisos pembunuhnya.
Sementara itu golongan lain dari sahabat yang di pimpin Ummul Mu’minin ‘Aisyah, Tholhah bin Ubaidillah dan Al-Zubair bin Al-Awwam melawan Khalifah ‘Ali, mereka berpendapat bahwa qisos harus segera ditegakkan terhadap para pembunuh Utsman.  Ummul mu’minin ‘Aisyah dan golongan lainya memprotes sikap ‘Ali yang membiarkan pembunuh Utsman belum di qisos.
Khalifah ‘Ali memberikan penjelasan pada mereka, bahwa ia tidak terlibat dan tidak memberi masukan dalam pembunuhan Utsman, ‘Ali berusaha membujuk Ummul Mu’minin ‘Aisyah, tholhah dan Al-Zubair agar memberikan dukungan kepada dirinya dan sebagai satu-satunya pimpinan, dan situasi negara aman dan situasi lebih kondusif. Sehingga dapat menangkap pembunuh Utsman. Khalifah ‘Ali mengirim delegasi seorang sahabat yang genius Al-Qa’qa’ bin Amr Al-Tamimi (w 40 H/660 M) yang akhirnya berhasil membujuk ‘Aisyah dan kelompoknya untuk berdamai dan membuat kesepakatan atas rencana ‘Ali.
Setelah terjadi penjelasan akhirnya salah faham itu telah berakhir. ‘Ali merasa bahagia dengan perdamaian tersebut, akan tetapi setelah beberapa saat ada embriou pengacau yang ada diantara kelompok ‘Ali. Mereka tidak suka dengan adanya kesepakatan yang dicapai oleh ‘Ali dan kelompok ‘Aisyah untuk melakukan qisos terhadap pembunuh Utsman, dan juga dari kelompok ‘Aisyah seorang yang tidak menginginkan suasana kondusif atas terciptanya perdamaian, karena itu mereka menciptakan api pepecahan. Sehingga pada saat orang menikmati perdamaian, tiba-tiba kekacauan antara kelompok ‘Aisyah dan ‘Ali bergejolak ketika waktu menjelang pagi pada malam kedua terjadi kesepakatan. Akhirnya masing-masing kelompok menuduh bahwa pihak lawan telah mengkhianati kesepakatan sehingga peperangan tidak dapat dihindari, perang ini terjadi pada 36 H (567 M) tanggal 9 Desember.
Perang ini terjadi di basrah, yang dikenal dengan perang Jamal. Dinamakan demikian, karena ‘Aisyah yang memimpin pasukan menunggang unta.
Dalam perang ini, kemenangan ada di pihak Khalifah ‘Ali. Tholhah dan zubair terbunuh dan ‘Aisyah ditawan akan tetapi ia tidak diperlakukan oleh ‘Ali sebagai tawanan, melainkan dihormati dan dimuliakan, lalu dipulangkan ke Mekkah, serta dinasehatinya agar dia tidak lagi mencampuri politik negara.[3]
E.      Perang siffin
Perang jamal telah usai, dengan kemenangan dibawah kelompok ‘Ali, tetapi kekahalifahan belum aman dan setabil, ‘Ali masih belum lega karena memfokuskan untuk memerangi Mu’awiyah, yang memiliki kekuatan solid, Mu’awiyah mengajukan permintaan pada ‘Ali agar menyerahkan para pembunuh Utsman sebagai syarat bagi setiap tawaran kesepakatan. Kemudian Mu’awiyah tidak mau mengikuti pengangkatan, dan Mu’awiyah tidak mau diajak berdamai oleh ‘Ali, Perlawanan ini menyebabkan pecahnya perang Siffin pada 37 H/ 657 M. Semula peperangan ini dimenangkan pihak ‘Ali dibawah pimpinan Malik al-Astar[4], namun Amr bin Al ’Ash mengusulkan pasukan Mu’awiyah agar melakukan tipu muslihat dengan mengangkat Al-Qur’an di atas ujung tombak, dan mengajak kelompok ‘Ali kembali pada Al-Qur’an. Mayoritas kelompok ‘Ali tertipu dengan muslihat tersebut, meskipun ‘Ali sudah menasehati supaya bersabar dan melajutkan peperangan serta tidak terkecoh oleh rekayasa politik kelompok Mu’awiyah.
Dalam hal ini, al-Hafizh Ibn Hajar Al-‘Asqalani (793-852 H/1391-1448 M) berkata: “Hampir saja pasukan Syam menderita kekalahan. Akan tetapi kemudian mereka mengangkat Mushhaf al-Qur’an di ujung tombak sambil berseru kepada kelompok ‘Ali: “Kami mengajak kalian kembali pada kitab Allah.” Akhirnya pasukan ‘Ali, terutama dari kalangan qurra’, meninggalkan peperangan. Lalu diantara mereka saling mengirimkan delegasi juru damai dan siapa yang menurut mereka benar maka harus di ikuti. ‘Ali terpaksa menerima proses arbitrase dan menerima Abu Musa al-Asy’ari (21 SH-44 H/602-665 M) sebagai perwakilannya. Itulah awal genjatan senjata antara kedua belah fihak.
Pada saat itu juga dari pasukan ‘Ali muncul kelompok aksi menolak terhadap genjatan senjata dan menganggapnya melanggar hokum Al-Quran. Kelompok ini jumlahnya sangat signifikan dan keluar dari kelompok ‘Ali, dikemudian hari disebut kaum Khawarij. Mereka berpendapat ‘Ali dan mereka yang menerima genjatan senjata telah melanggar perintah Allah. Kaum khawrij selalu berusaha merebut massa Islam dari pengikut ‘Ali, Mu’awiyah dan ‘Amr sebab mereka yakin bahwa ketiga pemimpin ini merupakan sumber pergolakan-pergolakan, sehingga mereka bertekad untuk membunuhnya. Pada tanggal 20 Romadlon 40 H (660 M) salah seorang Khawarij berhasil membunuh ‘Ali di Masjid Kufah.[5]
KESIMPULAN
  1. Berdasarkan kesepakatan para pakar, motif utama terjadinya perpecahan dikalangan umat Islam adalah berangkat dari ranah politik, yaitu soal kholifah atau suksesi kepemimpinan pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW.Khalifah Utsman mendapatkan tuduhan-tuduhan yang merupakan bagian dari peristiwa politik yang dinilai sebagai justifikasi dan legimitasi bagi terjadinya al-fitnah al-kubra serta kemelut politik yang mengantarkan pada terbunuhnya Khalifah Utsman.
  2. Panasnya fitnah yang membara pada masa kholifah utsman dinyalakan, direncanakan kelompok-kelompok yang punya ambisi pribadi dan idiologi subyektif.
  3. Perang Jamal terjadi antara Kelompok ‘Ali dan Kelompok ‘Aisyah, terciptanya api perpecahan disebabkan atas terbunuhnya Utsman. Perang ini terjadi 36 H yang dimenangkan oleh kelompok Khalifah ‘Ali.
  4. Perang Siffin adalah perang antara kelompok ‘Ali dan kelompok Mu'awiyyah.

DAFTAR PUSTAKA

Idrus Romli, Muhammad. Pengantar sejarah Ahlus Sunah Wal jama’ah
Risalah Ahlus Sunah Wal Jama’ah, Tim Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur
Tarikh Islam untuk kelas 1, KMI Pondok Moderen Darusalam Gontor
            Chairul Rofiq, Ahmad. Sejarah Peradapan Islam. Ponorogo: STAIN Ponorogo Press , 2009
            Djuhan, Wida. Sejarah Peradapan Islam. Ponorogo: STAIN, 2008



[1]               Chairul Rofiq, Ahmad. Sejarah Peradapan Islam. Ponorogo: STAIN Ponorogo Press , 2009. Hal 95
[2]               Chairul Rofiq, Ahmad. Sejarah Peradapan Islam. Ponorogo: STAIN Ponorogo Press , 2009. Hal 99
[3]               Tarikh Islam untuk kelas 1 . KMI Pondok Moderen Darusalam Gontor
[4]               Chairul Rofiq, Ahmad. Sejarah Peradapan Islam. Ponorogo: STAIN Ponorogo Press , 2009. Hal 101
[5]               Chairul Rofiq, Ahmad. Sejarah Peradapan Islam. Ponorogo: STAIN Ponorogo Press , 2009. Hal 116



Disusun Oleh:

1.      Muqorobin
2.      Sarwono
3.      Sugiono
4.      Ni’matuz Zahrah

No comments:

Post a Comment